https://alwantour.id/


Assalamu’alaikum, Pembaca yang Budiman.

Akhirnya tiba juga, hari dimana saya bisa pergi Umrah dan mengunjungi tempat tersuci umat Islam sedunia, Kabah yang Mulia. Saya selalu ingin kesana, tapi keadaan belum memungkinkan untuk pergi.
Mungkin banyak yang heran, mengapa saya yang seorang Dai, belum pernah menyempatkan pergi ke Mekah dan Madinah dan mengerjakan umrah/haji sampai sekarang, meski sudah biasa pergi ke beberapa negara seperti Malaysia, Indonesia, Singapura, Dubai dan lainnya. Tapi Saudi Arabia – dengan berbagai alasan- selalu saja terlewat. Jujur, saya sudah mencobanya beberapa kali, tapi sesuatu selalu saja terjadi dan akhirnya saya batal pergi. Pernah suatu saat saya sudah mempersiapkan dengan sempurna, namun tetap gagal juga.

Pernah juga, visa umrah saya sudah keluar, tapi kejadian darurat lagi-lagi menggagalkannya. Demikian juga dengan haji saya dan ibu, selama tiga tahun berturut kami pernah coba mendaftar lewat kuota pemerintah, tapi selalu saja kami tak lolos. Begitu juga banyak usaha lain yang pernah saya coba, yang endingnya selalu saja sama.

Bagaimanapun, tetap akan tiba waktunya bagi seseorang untuk melaksanakan kewajiban tertentu seperti Haji dan Umrah. Dan kesempatan itu benar-benar datang dalam pengembaraan saya menuntut ilmu. Pengembaraan tersebut membawa saya pertama kali ke Mekah dalam Umrah dan juga ke Madinah.

Pertama, saya tiba di Riyadh, ibu kota Saudi. Sepekan selanjutnya, saya pergi Umrah ke Mekah. Banyak cara untuk sampai kesana, dan saya pilih memakai bus. Bus Umrah berangkat dari Riyadh setiap Senin dan Rabu, dan kembali Jumat malam.

Berangkat sekitar pukul 4 sore hari Senin dari Riyadh, butuh waktu sekitar 10 jam untuk sampai Mekah. Di perjalanan, kami berhenti di Miqat, lalu saya memakai pakaian Ihram, dan Umrah saya dimulai. Bus sampai di hotel Mekah sekitar jam 3 pagi, memberi kami kesempatan untuk bersiap shalat Fajar di Baitullah.

Dari semenjak mengenakan kain ihram, air mata tak pernah berhenti menetes hingga membasahi jenggot saya. Ada adukan perasaan yang tak saya pahami. Saya sangat bersemangat dan bahagia bisa melakukan Umrah, namun di waktu yang sama, rasa takut juga mencengkeram hati saya, karena saya akan ‘bertemu’ dengan Tuhan saya.

Saya bertanya-tanya, bagaimana seorang pendosa seperti saya, akan bertemu di hadapan Allah? Sambil terus menangis dengan keyakinan kuat bahwa Allah akan mengampuni semua dosa yang mungkin saya lakukan dengan sadar atau tidak. Saya memohon ampun dengan mengemis seperti pengemis di hadapan Allah, dan menangis seperti anak kecil untuk hal yang paling saya butuhkan, yaitu, pengampunan Allah. Dan Alhamdulillah, saya merasa puas dan bahagia ketika meninggalkan tempat ini dan saya yakin Allah akan mengampuni semua dosa saya di umrah ini.

Sesampainya di hotel, saya taruh barang-barang dan bersiap menuju Masjidil Haram, yang jaraknya sekitar 10 menit dari hotel ini. Begitu turun, segera saya lihat sebuah masjid megah, pemandangan terindah yang pernah saya saksikan dalam hidup saya!

Saya ingin menyelesaikan kewajiban Umrah terlebih dahulu. Tanpa buang-buang waktu, aku segera memulainya. Setelah Thawaf, aku shalat dua rakaat di dekat Maqam Ibrahim, selanjutnya bergegas untuk Sai.

Selesai Sai, sempurnalah Umrah saya. Kemudian saya beristirahat di depan Kabah, sambil memandang indahnya.
Seseorang pernah bilang, bahwa ini adalah masa libur dan akan sedikit orang yang Umrah. Namun ternyata mereka salah. Masjid penuh sesak dengan jamaah. Hal tersulit adalah mendekat ke Hajar Aswad (batu hitam). Meski bukan sebuah kewajiban, namun karena ini pengalaman umrah pertama, saya sangat ingin menyentuh dan bahkan kalau bisa, menciumnya.

Saya coba menembus lingkaran jamaah yang sedang Thawaf, mencoba mendekat, dan saya rasakan badan tergencet bagai pasta gigi. Semua berebut mendekat. Setelah mengerahkan semua tenaga, akhirnya saya bisa meraih dan bahkan menciumnya. Selanjutnya, jangan tanya bagaimana saya keluar dari sana :).

Pesona Kabah, adalah pemandangan terindah sepanjang hidup saya. Selama 4 jam, saya tak lelah menatapnya. Karena sekedar ‘begitu’ saja, sudah cukup memberikan kedamaian hati dan pikiran saya.
Hari-hari tersisa, saya habiskan di masjid untuk beribadah. Di hari Jumat, setelah shalat Jumat, kami bergerak pulang ke Riyadh. Meski perasaan saya seperti tak ingin pergi dari sana, dan ingin tinggal selamanya.

Alhamdulillah, sekarang saya merasa mantap dan kuat sebagai tentara Allah, sebagai Dai-Nya, dan merasa lebih bersemangat mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Pencipta mereka.

Catatan: Tidak saya sertakan banyak foto, karena saya menggunakannya untuk keperluan pendidikan dan dakwah saja. Saya tidak pernah merencanakan mengambil gambar, namun setelah berpikir bahwa hal tersebut bisa bermanfaat bagi para pemuda agar lebih tertarik pada perjalanan mulia semacam ini (daripada bepergian ke tempat lain dan membuang-buang uang). Karenanya, saya hanya bisa membagikan beberapa foto dari ponsel. Mohon maaf.

Saya berharap dapat segera menunaikan haji secepat mungkin, insyaallah. Mohon doakan saya.

Diterjemahkan bebas dari website abuisaam

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Paket Spesial Umrah Awal Ramadhan plus City Tour Turki
Bersama ALWAN TOUR ‘Biro Travel ‘Pesantren Al-Lu’lu’ Wal Marjan

Berangkat 2 Mei 2019 by Saudi Arabia Airlines.
Pembimbing: Ust. Rizal Yuliar Putrananda.

Mari bergegas, karena seat terbatas..

Informasi & Reservasi:
08147 66666 14 – 0853 2550 7014 (WA)

Umrah Pertama
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *